24/09/19

Samsung Kembangkan Calon Pengganti Baterai Lithium

Ponsel, laptop, kamera dan berbagai perangkat gadget saat ini sangatlah mengandalkan baterai dengan berbahan lithium ion sebagai sumber daya. Akan tetapi, baterai generasi terbaru sedang dikembangkan oleh Samsung yang dimana memanfaatkan material baru yaitu grafena atau graphene dalam Bahasa Inggris.

Hal ini diungkapkan oleh seorang pembocor gadget yang bernama Evan Blass di akun Twitternya. Menurut Blass, baterai baru ini kemungkinan akan digunakan secara resmi oleh Samsung pada tahun 2020 atau paling lambar 2021.

"Mereka masih bekerja untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menekan biaya produksi yang tergolong masih tinggi karena ini merupakan sebuah produk generasi terbaru," kata Blass.

Samsung Kembangkan Calon Pengganti Baterai Lithium

Salah satu kelebihan dari baterai graphene ini adalah memiliki kecepatan pengisian daya yang lebih cepat dari lithium. Baterai ini dapat diisi penuh dalam waktu kurang dari 30 menit dari kondisi kosong.

Penggunaan Graphene sesungguhnya telah banyak dibidik oleh para pengembang teknologi untuk menggantikan lithium.

Graphene merupakan sebuah semikonduktor alotrop karbon yang berbentuk lembaran tipis akan tetapi lebih kuat 200 kali daripada baja, lebih ringan dari kertas dan dapat menyimpan daya dengan sangat cepat. Karena bentuknya yang tipis, baterai graphene dapat disisipkan pada rongga sempit seperti sol sepatu.

Pada MWC 2018 di Spanyol, terdapat sebuah stand atau paviliun yang khusus memamerkan produk graphene mulai dari robot hingga produk wearable seperti smart watch.

Samsung sendiri disebutkan telah mulai melakukan riset pada graphene pada tahun 2017 lalu. Saat itu, raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut menyampaikan bahwa graphene memiliki kelebihan dalam pengisian daya yang lebih cepat hingga lima kali daripada lithium.

Untuk saat ini, produk graphene masih dikembangkan untuk dapat digunakan secara komersil. Material ini sesungguhnya masih cukup baru karena ditemukan pada tahun 2004 oleh kelompok riset yang berasal dari Universitas Manchester.